Novel
ini menceritakan tentang perjalanan hidup Srintil yang
terpilih menjadi seorang penari ronggeng di kampungnya dan keadaan itu mengubah
jalan hidupnya dan juga kekasihnya. Rasus
menjadi kecewa saat mengetahui Srintil yang baru berusia 11 tahun harus menjadi
ronggeng. Sehingga Rasus tidak mau bermain dengan Srintil. Tema pada
novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu Kasih Tak Sampai karena dalam cerita novel
tersebut menceritakan tentang harapan ronggeng Srintil untuk dapat hidup
bersama dengan lelaki yang sangat
dicintai dan didambakan sejak kecil, karena memang dia teman bermainnya, yaitu
Rasus. Namun Rasus tidak mau menerima ajakan Srintil untuk menikah, karena bagi
Rasus, Ronggeng adalah milik masyarakat, milik orang banyak, dan milik semua
orang. Maka Rasus merasa sangat egois jika harus menikahi Srintil. Tokoh
yang ada di dalam novel ini yaitu :
- -
Srintil berwatak bersahabat, seorang
ronggeng, agresif, dewasa
- -
Rasus berwatak bersahabat, penyayang,
pendendam, pemberani
- -
Dursun berwatak bersahabat
- -
Warta berwatak perhatian dan penghibur
- -
Sakarya ( Kakek Srintil ) berwatak penyayang,
tega
- -
Ki Secamenggala berwatak sabar
- -
Kartareja
dan Nyai Kartareja berwatak mistis, egois
- -
Sakum berwatak seorang yang hebat
- -
Nenek Rasus berwatak linglung
- -
Santayib ( Ayah Srintil ) berwatak
bertanggung jawab, keras kepala
- -
Istri Santayib berwatak keibuan, prihatin
- -
Dower berwatak sabar
- -
Sulam berwatak sombong
- -
Siti berwatak alim
- -
Sersan Slamet berwatak penyuruh, tegas
- -
Kopral Pujo berwatak penakut
- -
Tampi berwatak penyayang, sabar
- -
Masusi berwatak jahat, pendendam
- -
Diding berwatak patuh
- -
Bajus berwatak tega
- -
Pak Blengur berwatak penyayang
- -
Lurah
Pecikalan ( Kepala Desa ) berwatak bijaksana dan peduli
Alur
yang digunakan pada novel Ronggeng Dukuh Paruk yaitu alur maju yang disertai dengan
Kembali ke masa lalu, baik yang dialami tokoh utama atau pemeran lainnya. Dalam
novel ini ditengah-tengah cerita novel menceritakan Kembali ke masa lalu yang
sempat dialami oleh pemeran cerita. Seperti menceritakan Kembali terjadinya
peristiwa tempe bongrek sebelas tahun yang lalu atau semasa bayinya srintil.
Latar
pada novel Ronggeng Dukuh Paruk, Latar tempat pada novel yaitu di Dukuh
paruk, Ladang/Kebun, Dibawah Pohon Nangka, Rumah Nyai Kartareja, Perkuburan,
Pasar Dawuan, Di markas tentara, Di hutan, Rumah Sakarya, Rumah Nenek, Rumah
Sakum, Rumah Tarim, Lapangan bola dekat kantor kecamatan Di Alaswangkal, Kantor
polisi, Di penjara/tahanan, Di sawah, Di pantai, Di vila, dan Rumah Sakit. Latar
Waktu pada novel adalah sore hari, Malam hari, dan Pagi hari. Latar
Suasana pada yaitu tenang, tentram, gembira, bangga, Bahagia, tegang, dan
genting.
Amanat
atau pesan dari novel Ronggeng Dukuh
Paruk itu ialah agar kita semua mau dan mampu melihat seseorang itu tidak hanya
dari luarnya saja melainkan juga dari dalamnya dari hatinya. Pesan lain seperti
jangan menyia-nyiakan orang yang telah sepenuh hati mencintai kita, karena
belum tentu suatu saat nanti kita dapat menemukan orang yang seperti itu. Dan
adat bagaimanapun tetap harus berlaku dalam kehidupan yang menyakinkan, karena
jika suatu daerah mempercayai adat yang berlaku, maka harus dijalankan dengan
sebaik-baiknya. Karena pada setiap keyakinan pasti ada suatu hal yang akan
terjadi jika suatu adat kebiasaan tidak dilaksanakan. Serta tidak mudah
terpengaruh dengan keadaan duniawi karena suatu saat penyesalan akan dating
dalam hidup, segala sesuatu akan kembali kepadaNya. Kehidupan fana dalam
hura-hura dunia dapat mencekam masa depan.

Baca novel ini ga selesai-selesai, izin liat analisisnya ya kak biar aku jadi tau
BalasHapusjadi penasaran mau baca novelnya
BalasHapusLiat analisisnya jad pengen baca. Otw Checkout bukunya kayaknya
BalasHapusjadi pengen baca novelnya sampai selesai
BalasHapus